Pelatihan Dakwah

Pembentukan Kepanitian dan

Pengorganisasian Pelatihan Dakwah

Makalah ini diserahkan sebagai tugas mata kuliah Manajemen Pelatihan Dakwah

Dosen              : Drs. Sugiharto, MA

 

 

 

 

Di susun oleh :

Riki Oktafineldi

11140530000026

 

 

 

PROGRAM STUDI MANAJEMEN DAKWAH

FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1438/2016

 

 


 

Kata Pengantar

 

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT, karena rahmat, taufik dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pembentukan Kepanitian dan Pengorganisasian Pelatihan Dakwah”

Kami juga mengucapkan terima kasih atas Dosen pembimbing manajemen masjid, bapak Sugiarto yang telah meminta kami  untuk menyusun makalah ini, kami juga memohon maaf jika dalam makalah kami ada kekurangan dan tulisan yang menyinggung perasaan pembaca. Untuk itu, kami sebagai penyusun makalah ini tidak henti-hentinya meminta kritik dan saran yang membangun semangat kami agar nantinya kami bisa menulis dan menyusun makalah yang lebih baik dari sebelumnya.

 

Jakarta,  18 Oktober  2016

 

 

Penulis

DAFTAR ISI

 

 

Kata Pengantar. 2

DAFTAR ISI. 3

BAB I. 4

PENDAHULUAN.. 4

  1. Latar Belakang. 4

 

BAB II. 5

PEMBAHASAN.. 5

  1. Kepanitian. 5
  2. Pengorganisasian. 6
  3. Membentuk Kepanitian dan Mengorganisasikan Pelatihan Dakwah. 7
  4. Contoh pengorganisasian pelatihan dakwah. 9

 

BAB III. 10

PENUTUP.. 10

  1. Kesimpulan. 10

 

DAFTAR PUSTAKA.. 10

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Jika berbagai kebutuhan telah teridentifikasi, pertanyaan berikutnya, siapakah yang akan menangani semua itu? Untuk menjawabnya, maka diperlukan adanya kepanitian yang siap bekerja dalam sebuah tim yang solid. Kepanitian merupakan bentuk dari tahap pengorganisasian. Aep bersaudara mengatakan “Kepanitiaan (pengorganisasian) ini merupakan sekumpulan individu yang siap mengerjakan tugas tertentu untu menyelesaikan tujuan bersama.[1]

  1. Hani Handoko juga mengatakan “pengorganisasian merupakan proses penyusunan struktur organisasi yang sesuai dengan tujuan organisasi, sumber daya-sumber daya yang dimilikinya, dan lingkungan yang melingkupinya[2].

Dua aspek yang perlu digaris bawahi adalah kerja sama dan proses pembagian kerja dalam pengorganisasian. Aspek inilah yang akan menjadi kunci dalam proses pembuatan kepanitian. Keduanya merupakan aspek dasar proses untuk mencapai tujuan yang telah di tetapkan secara efisien dan efektif.

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

  1. Kepanitian

 

Panitia adalah kelompok orang yang ditunjuk atau dipilih untuk mempertimbangkan atau mengurus hal-hal yang ditugaskan kepadanya[3]. Kita ketahui bahwa penjelasan diatas menunjukan sekumpulan orang yang diberikan amanat dan tugas untuk menyelesaikan tugasnya.

Sedangkan kepanitian adalah proses sekelompok orang dalam mengarahkan aktivitas bersamanya untuk mencapai tujuan tertentu[4]. Kepanitian hendaknya dibentuk bedasrkan ketentuan organisasi. Hal itu agar ada landasan hukum dan jelas kepada siapa mereka kelak bertanggung jawab. Panitia akan memberikan laporan kegiatan, tentu kepada pihak yang jelas, sesuai dengan aturan pembentukan kepanitian.

Keberadaan kepanitian sangat diperlukan. Hal itu akan berguna untuk menyebarkan informasi, menghasilkan ide dan penyelesaian masalah, membantu terciptanya koordinasi, komunikasi dan kerjasama. Secara khusus, keuntungan adanya kepanitian adalah memungkinkan tercapainya penilaian kelompok secara terpadu, membangun suasana kerja sama dan sama-sama kerja, serta memungkinkan dapat lebih rapih dan lebih cepat selesai.

 

 

  1. Pengorganisasian

Istilah pengorganisasian mempunyai bermacam-macam pengertian. Istilah tersebut dapat digunakan untuk menunjukan hal-hal berikut ini[5]:

  1. Cara manajemen merancang struktur formal untuk penggunaan yang paling efektif sumber daya, sumber daya keuangan, fisik, bahan baku, dan tenaga kerja organisasi.
  2. Bagaimana organisasi mengelompokan kegiatan-kegiatannya, dimana setiap pengelompokan diikuti dengan penugasan seorang manajer yang diberi wewenang untuk mengawasi anggota-anggota kelompok.
  3. Hubungan-hubungan anta fungsi-fungsi, jabatan, tugas dan para karyawan.
  4. Cara dalam mana para manjer membagi lebih lanjut tugas-tugas yang harus dilaksanakan dalam departemen mereka dan mendelegasikan wewenang yang diperlukan untuk mengerjakan tugas tersebut.

 

Pengorganisasian merupakan suatu proses untuk merancang struktur formal, megelompokkan dan mengatur serta membagi tugas-tugas atau pekerjaan di antara para anggota organisasi[6].

  1. Membentuk Kepanitian dan Mengorganisasikan Pelatihan Dakwah

Pada dasarnya kepanitian dan pengorganisasian adalah hal yang berkaitan erat, antara manusia dan kegiatan. Tidak bisa di biarkan berpisah, sebagaimana kita telah mengetahui dari pengertian keduanya diatas, antara orang yang diberikan tugas dan proses penugasaan yang diberikan, pentingnya unsur keduanya di dalam pelatihan dakwah karena budaya organisasi yang tidak bisa lepas dari bantuan sekumpulan manusia.

Maka sebagaimana dilihat pelatihan dakwah merupakan sebuah organisasi kecil yang bisa di masukan proses manajemen didalamnya. Pelaksanaan proses pengorganisasian yang sukses, akan membuat suatu organisasi dapat mencapai tujuannya[7]. Pproses ini akan tercermin pada stuktur organisasi, yang mencakup aspek-aspek oenting organisasi dan proses pengorganisasian.

Membentuk kepanitian ada beberapa pilihan. Sebab dalam kepanitian ada beberapa jenis. Paling tidak dua jenis kepanitian[8]. Pertama, kepanitian tetap. Ia dibentuk untuk menanggulangi persoalan yang bersifat umum dan berkelanjutan, serta membutuhkan nilai kolektif. Seperti perencanaan keanggotaan, keuangan dan sebagainya. Kedua, kepanitian ad hock . yaitu kepanitian yang diberi tanggung jawab untuk menangani masalah khusus, baik jenis, masa tugas, serta tugas tersebut tidak berulang[9].

Dengan demikian kepanitian ada yang berbentik permanen, ada yang sementara atau temporer. Dimana keduanya bisa dipakai dalam kepanitian pelatihan sesuai dengan kebutuhan pelatihan.

Kepanitian sebagai realisai dari pengorganisasian pelatihan dakwah pada dasarnya merupakan penyiapan realisasi dari perencanaan pelatihan. Untuk perealisasian tentu dibutuhkan kejelasan; tujuan apa, siapa, posisinya dimana, tugasnya apa, melaksanakan apa, hubungan dengan yang lain bagaimana.

Sebagaimana perealisasian pelatihan dakwah, pengorganisasian palatihan dibangun atas visi keislaman, keilmuan, keterampilan, kedakwahan, dan pemberdayaan. Selain itu, visi pencerahan peningkatan kualitas, dan keunggulan[10].

Aspek-aspek penting organisasi dan proses prngorganisasian, yaitu :

  1. Pembagian kerja
  2. Pemilihan orang yang tepat
  3. Departementalisasi
  4. Bagan organisasi formal
  5. Rantai perintah dan kesatuan
  6. Tingkat hirarki manajemen
  7. Saluran komunikasi

Untuk itu pengorganisasian pelatihan dakwah dapat dibuat, atas dasar kebutuhan dan realitas para pengelola pelatihan dakwah[11]. Dengan demikian sifat dari pengorganisasian pelatihan dakwah sendiri tidak mutlak, melainkan fleksibel dan kondisional. Pengorganisasian pelatihan dakwah bisa dibagi kepada tiga orang misalnya manajer, sekertaris merangkap bidang internal, dan bendahara merangkap bidang eksternal atau oleh enam orang, ada pengatrah, manajer, sekertaris, bendahara, bidang internal, dan bidang eksternal. Atau mungkin juga lebih dari itu.

 

d.      Contoh pengorganisasian pelatihan dakwah

 

PENGARAH
BENDAHARA
SEKERTARIS
MANAJER
KABID INTERNAL
KABID EKSTERNAL
PESERTA PELATIHAN DAKWAH

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

Pemilihan dan pembentukan panitia juga tidak hanya memilih orang saja. Hendaknya menghubungkan orang dengan pekerjaan dan tugasnya. Karena pada dasarnya segala sesuatu yang di kerjakan dengan proses manajemen yang benar dapat berjalan dengan baik maupun efektif dan efesien.

Telah bersabda Rasulullah SAW : Apabila suatu urusandiserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancurannya

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Kusnawan, S.Ag, M.Ag., Aep dan Sy. Firdaus, M.pd., Drs. Aep. Manajemen Pelatihan Dakwah. Jakarta: PT Rineka Cipta 2009

Handoko, M.B.A., Dr. T. Hani. Manajemen edisi 2. Yogyakarta: BPFE 2014

  1. Robbins, Stephen dan Coulter, Mary. Manajemen edisi kesepeluh jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga 2009

http://kbbi.web.id/panitia diakses pada tanggal 18 oktober 2016

 

http://tumbuhberbagidiridhoi.blogspot.co.id/2012/04/manajemen-kepanitiaan.html diakses pada tanggal 18 oktober 2016

 

 

[1] Aep Kusnawan, S.Ag, M.Ag., Drs. Aep Sy. Firdaus, M.pd. Manajemen Pelatihan Dakwah (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2009) h.104

[2] Dr. T. Hani Hanoko, M.B.A Manajemen edisi 2 ( Yogyakarta : BPFE, 2014) h.167

[3] http://kbbi.web.id/panitia diakses pada tanggal 18 oktober 2016

[4] http://tumbuhberbagidiridhoi.blogspot.co.id/2012/04/manajemen-kepanitiaan.html diakses pada tanggal 18 oktober 2016

[5] Ibid Dr. T. Hani Hanoko, M.B.A Manajemen edisi 2 ( Yogyakarta : BPFE, 2014) h.168

[6] Ibid h.168

[7] Ibid Dr. T. Hani Hanoko, M.B.A Manajemen edisi 2 ( Yogyakarta : BPFE, 2014) h.169

 

[8] Ibid Aep Kusnawan, S.Ag, M.Ag., Drs. Aep Sy. Firdaus, M.pd. Manajemen Pelatihan Dakwah (Jakarta : PT Rineka Cipta, 2009) h.105

[9] Hisyam At-Thalib, Panduan latihan untuk Juru Dakwah (Jakarta : Media Dakwah, 1966) h.208 dalam buku Aep dan Aeb Sy Manajemen Pelatihan Dakwah, h.105

[10] Ibid Aep dan Aeb Sy Manajemen Pelatihan Dakwah, h.105

 

[11] Ibid h.106

Merbabu sunrise

image

Kali ini keindahan ciptaan Tuhan yang tidak ada bandingannya, menikmati keindahan pagi buta dipuncak gunung Merbabu.

Gunung Merbabu adalah gunung api yang bertipe Strato (lihat Gunung Berapi) yang terletak secara geografis pada 7,5° LS dan 110,4° BT. Secara administratif gunung ini berada di wilayah Kabupaten Magelang di lereng sebelah barat dan Kabupaten Boyolali di lereng sebelah timur dan selatan,Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang di lereng sebelah utara, Provinsi Jawa Tengah.

Gunung Merbabu dikenal melalui naskah-naskah masa pra-Islam sebagai Gunung Damalung atau Gunung Pam(a)rihan. Di lerengnya pernah terdapat pertapaan terkenal dan pernah disinggahi oleh Bujangga Manik pada abad ke-15. Menurut etimologi, “merbabu” berasal dari gabungan kata “meru” (gunung) dan “abu” (abu). Nama ini baru muncul pada catatan-catatan Belanda.

Gunung ini pernah meletus pada tahun 1560 dan 1797. Dilaporkan juga pada tahun 1570 pernah meletus, akan tetapi belum dilakukan konfirmasi dan penelitian lebih lanjut. Puncak gunung Merbabu berada pada ketinggian 3.145 meter di atas permukaan air laut.

Gunung Merbabu mempunyai kawasan Hutan Dipterokarp Bukit, Hutan Dipterokarp Atas, Hutan Montane, dan hutan Ericaceous atau hutan gunung. http://id.wikipedia/merbabu

image

Bagi gue gunung ini termasuk gunung yang sulit untuk di daki, mengapa demikian. Karena gunung ini memiliki jalur yang semua nya tidak ada bonus nya. Waktu itu naik dari Wekas, ternyata jalur ini lah yang paling dekat tapi tracknya lumayan karena bulan itu saya mendaki pada musim panas. Jalanan penuh pasir seperti digurun bukan digunung. Wekas banyak didirikan basecamp untuk pendaki. Pos pertama akan kita lalui sebuah makan dan pondok untuk berdoa.

image

Lalu sampai dipos dua, yang menjadi camp untuk para pendaki sebelum summit kepuncak nya. Ada sumber air disini pendaki tidak perlu repot kehausan dan kehabisan air.

image

“Nikmatilah selagi bisa” kata petatah. “Mumpung masih muda banyakin jalan jalan” kata om gue. “Jangan main mulu ngabisin duit” kata ibu bapak gue. Hahaha…

image

Inilah Indonesia, inilah Merbabu. Goresan ciptaan Tuhan yang tiada banding yang harus kita jaga agar anak cucu kita dapat menikmati apa yang kita nikmati sekarang ini .

image

Cerita Masa Kecil

Masa kecil atau yang sering kita sebuat masa kanak-kanak adalah masa yang paling bahagia buat kita sendiri ataupun orang tua kita. Mengapa?

masa itu adalah jelas dimna kita tidak mengenal kesibukan pada masa sekarang dimana kita telah beranjak dewasa, masa dimana yang kita pikirkan dalah bermain dan bergaul dengan anak sebaya kita sendiri. Tak dipungkiri dibelahan dunia manapun masa kanak-kanak adalah masa yang jarang sekali dikenang oleh segelintir atau kebanyakan orang.

Tapi, sangatlah penting bagi kita untuk mengenang masa ini, dimana kita akan mendapat pengalaman hangat dan juga menarik yang akan kita ceritakan dan kita ajarkan kepada anak atau cucu kita kelak. Pepatah bilang “Pengalaman adalah guru terbaik”.

Seperti yang gue jelaskan diatas, masa kecil gue ngak begitu gue inget sampai sekarang, yang gue inget hanya gue seorang anak kecil ingusan yang penakut dan selalu dijahili sama temen-temen selingkungan gue pada waktu itu. Ya dulu gue cemen, penakut, pemalu dan mempunyai dua kepribadian mungkin kalau kata gue. Mengapa gue bilang demikian? Karena apa yang terjadi dilingkungan main gue dan dilingkungan dalam rumah gue adalah dua hal yang berbeda, itu lah faktor nya.

Tinggal dilingkungan yang ergaulan anak-anak nya keras membuat gue menjadi seorang berkepribadian dua, satu sisi terisolir dan satu sisi gue merasa tertekan. Ini mengapa gue tegaskan perlunya diingat masa kanak-kanak kita agar dapat mengajarkan kepada keturunan kita kelak nanti. Amiin…..

Masa yang dimana gue yakini semua dari elu adalah makhluk culun dan belum mengetahui apa-apa tentang dunia. Masa yang seharusnya dijalani hanya dengan kegembiraan dan kesenangan.

Kata orang tua gue, dulu sebelum tinggal di daerah ini (daerah yang gue inget sampai sekarang) gue tinggal didaerah pinggiran Jakarta Timur, Pulo Gadung tepatnya. Kisah yang gue sama sekali ngak ingat dimana gue tinggal tepatnya, apa aja yang sudah gue lakuin disana, sama sekali ngak ada gambaran apapun tentang tempat itu. dan orang tua gue bilang gue pernah mengalami hal buruk disana, gue pernah ditabrak bus kota ketika gue hendak mengambil bola sepak dijalanan. Kelam juga ya.. hahaha…

Percuma mau dingat-ingat bagaimanapun juga, tetap saja gue ngak ingat satu pun memori gue ketika tinggal disana, mau bertanya juga ke orang tua gue pun rasanya malas dan orang tua gue juga jarang menceritakan bagian gue tinggal disana.

Balik lagi kelingkungan gue yang agak kejam tadi yang malah nantinya bakal menjadikan gue orang yang berani dan tau bagaimana caranya hidup ditengah Ibu Kota Jakarta. Jakarta Pusat tepatnya di Tanah Abang dekat stasiun karet, disanalah memori kenangan gue yang sampai sekarang gue ngak lupa tentangnya. memori dimana masa kecil gue gue diajak bermain dan bersenang-senang.

Disini gue sempat tiga kali pindah dilingkungan yang sama, tempat pertama di gang pertama, kedua di gang kelima dan terakhir di gang keempat.

Ditempat pertama gue punya banyak segelintir teman salah satunya tetangga depan rumah gue, sebut saja Lala. Dia wanita yang kecilnya juga ingusan seperti gue, namanya juga anak kecil pasti ingusan. Lala termasuk temen baik gue saat itu karena dia yang pertama kali ngajak gue berkenalan dan ngajak berteman, orang baru kaya gue pasti kan mau nya mendekap dirumah karena takut kalau keluar dilingkungan baru.